BAB I
PENDAHULUAN
1.
A. Latar Belakang
Keluarga adalah sistem sosial yang unik. Cara masuk ke dalam sistem ini
adalah melalui kelahiran, pengadopsian, pengangkatan, pernikahan. Memutuskan
seluruh koneksi kekeluargaan adalah hal yang mustahil. Anggota keluarga juga
biasanya memiliki peran tertentu. Hubungan antar anggota keluarga merupakan hal
yang paling penting dan tidak tergantikan. Saat ini pendefinisian keluarga
secara tradisional mendapat tantangan. Maraknya orang tua tunggal, perceraian,
perpisahan dan pernikahan kembali membuat struktur tradisional mengalami
perkembangan.
Namun penelitian memperlihatkan bahwa siklus hidup sebuah keluarga yang
paling menguntungkan adalah model keluarga tradisional, dan model yang lain
dianggap sebagai deviasi dari norma ini (Carter & McGoldrick, 1999..Melihat
dari pembahasan diatas penulis ingin mengkaji lebih lagi mengenai Psikologi
perkembangan keluarga.
B. Tujuan Penulisan
Selain sebagai tugas kelompok mata kuliah bimbingan dan konseling keluarga
hal ini juga dibuat untuk mengetahui:
1.
Perubahan Interaksi keluarga
2.
Siklus Keluarga
3.
Tugas-tugas Perkembangan
BAB II
PEMBAHASAN
1.
A. Perubahan
Interaksi Keluarga
Seperti yang dikemukakan pada bagian orientasi, makna sebuah keluarga tidak
hanya terbatas pada sekumpulan individu yang tinggal bersama dalam suatu tempat
tertentu, melainkan lebih luas daripada itu, yaitu sistem sosial. Keluarga
disebut sebagai suatu sistem sosial karena ia terdiri dari sejumlah unit
(orangtua, dewasa, dan anak-anak) yang saling berinteraksi dan saling
berinterdenpensi antara satu dengan yang lainnya dalam mencapai tujuan-tujuan
bersama. Interaksi dan interdenpensi diantara unit-unit itu berlangsung sesuai
dengan aturan, peran, struktur kekuasaan, bentuk-bentuk komunikasi, cara
bernegosiasi, dan cara memecahkan masalah yang berlaku di dalam keluarga itu.
Semakin lancar dan harmonis interaksi dan interpendensi yang berlaku dalam
suatu keluarga semakin baik pula kehidupan keluarga itu.
Sebagai suatu sistem sosial, keluarga merupakan subsistem dari
sistem-sistem yang lebih luas, yakni lingkungan tetangga, komunitas, dan
masyarakat yang lebih besar (Bronferenbrenner,1979). keluarga merupakan suatu
sistem sosial yang terbuka, karena itu sistem-sistem sosial yang ada diluar
keluarga sangat berpengaruh terhadap kehidupan keluarga, baik pengaruh terhadap
struktur keluarga maupun pola interaksi yang berlangsung di dalamnya. Bagaimana
bentuk struktur keluarga, apakah ia tradisional atau inovatif, adaptif atau maladaptif,
efisien atau mengalami konflik, sangat bergantung pada bagaimana tingkat
adaptabilitas keluarga. Oleh karena itu, semua anggota keluarga harus berupaya
untuk menyesuaikan diri dan menata dirinya sendiri agar keluarga bisa berfungsi
sebagai suatu kelompok yang stabil dan fungsional.
Perubahan yang terjadi di dalam pola interaksi keluarga yang paling
berpengaruh terhadap anak dan perkembangannya
(Hurlock,1989;Ollenburger,1996;Sanderson,2000) adalah :
1.
Ikatan dengan anggota keluarga yang
lebih longgar dan kontak antara anggota keluarga semakin berkurang.
2.
Berkurangnya pekerjaan yang dilakukan di
rumah, terutama dilakukannya pekerjaan dengan bantuan alat-alat yang menghemat
tenaga, dan makanan yang sudah siap santap.
3.
Anak lebih banyak menghabiskan waktunya
di luar rumah daripada di dalam rumah.
4.
Rekreasi keluarga telah bergeser ke luar
rumah.
5.
Rekreasi utama keluarga adalah menonton
TV.
6.
Banyaknya ibu yang bekerja di luar rumah
(berkarier).
7.
Perceraian, perpisahan, dan pernikahan
kedua atau ketiga meningkat.
8.
Metode pendidikan anak lebih demokratis.
9.
Ayah lebih memegang peranan penting
dalam metode pengasuhan anak.
10.
Meningkatnya penggunaan pembantu (baby
sitter) dalam pengasuhan anak.
11.
Mobilitasi sosial dan pekerjaan
meningkat.
12.
Lambang status semakin penting.
13.
Orang tua mempunyai ambisi lebih besar
untuk anak dan bersedia mengorbankan kepentingan pribadi mereka demi untuk
pendidikan anak.
Perubahan yang terjadi pada pola dan interaksi keluarga kontemporer dilatar
belakangi oleh sejumlah penyebab. Menurut Hareven (1982) perubahan yang terjadi
di dalam keluarga disebabkan oleh masyarakat yang terlalu toleran terhadap
perubahan sosial, pereferensi-pereferensi dan prioritas pribadi, dan
alternatif-alternatif pilihan pribadi. Sementara itu Goldenberg dan Goldenberg (1985)
menyatakan bahwa penyebab terjadinya perubahan drastis pada pola dan interaksi
keluarga adalah sikap terhadap perkawinan dan perceraian yang sudah mulai
berubah, bertambah banyaknya pasangan suami isteri yang menyetujui pendapat
bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam
kegiatan-kegiatan pekerjaan dan pengasuhan anak Hurlock (1989) dengan rinci
mengemukakan empat penyebab berubahnya pola kehidupan keluarga, sebagai berikut
:
1.
Pergeseran masyarakat dari ekonomi
pedesaan yang akrab (gotong royong) ke ekonomi kota yang kurang akrab dan
individual
2.
Pergeseran yang cepat dari perusahaan
kecil ke perusahaan besar menyebabkan mobilitasi pekerjaan semakin tinggi dan
melonggarkan ikatan keluarga.
3.
Terjadi pengaruh silang budaya yang
menghasilkan keluarga yang terpusat pada anak, bertolak belakang dengan
keluarga generasi lalu yang berpusat pada orangtua.
4.
Perubahan dari pendidikan yang otoriter
ke pendidikan yang serba permisif.
1.
B. Siklus
Keluarga
·
Ø Menurut Duval (Niacholas
1984) ada 8 tingkat/siklus perkembangan keluarga
1.
Tahap I, Keluarga pemula (pasangan pada
tahap pernikahan)
2.
Tahap II,Keluarga sedang mengasuh anak
(anak tertua bayi-30 bln).
3.
Tahap III, Keluarga dengan anak usia pra
sekolah (anak tertua berusia 2-6 tahun).
4.
Tahap IV, Keluarga dengan anak usia
sekolah (anak tertua berumur 6-13 tahun)
5.
Tahap V, Keluarga dengan anak remaja
(anak tertua berumur 13-20 tahun).
6.
Tahap VI, Keluarga melepas anak usia
dewasa muda (anak yang meninggalkan rumah).
7.
Tahap VII, Orangtua usia pertengahan (pensiunan).
8.
Tahap VIII, Keluarga dalam masa pensiun
dan lansia.
·
Ø Menurut Carter &
McGoldrik ada 6 tingkat perkembangan keluarga
1. Keluarga antara: dewasa muda, belum menikah.
2. Penyatuan keluarga dengan pernikahan (pasangan baru menikah).
3. Keluarga dengan anak kecil (bayi-usia sekolah).
4. Keluarga dengan anak remaja.
5. Keluarga melepaskan anak dan pindah.
6. Keluarga dalam kehidupan terakhir. Tidak ada tahap yang diidentifikasi.
·
Ø Menurut Carter dan
McGoldrik 1985 mengatakan sistem keluarga sekurang-kurangya tiga generasi:
1.
Kakek-nenek
2.
Ayah-ibu
3.
Anak-anak
1.
C. Tugas-tugas
perkembangan Keluarga
Tahap-tahap Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan Dua Orangtua.Tahap ini
terdiri dari 9 tahap siklus kehidupan keluarga. “Tahap antara” dari perspektif
terapi keluarga ditambahkan pada model siklus kehidupan perspektif sosiologis
sehingga dapat diperoleh gambaran yang komprehensif tentang perubahan kehidupan
keluarga.
1.
Tahap transisi: keluarga antara, belum
menikah.Tahap ini menunjuk ke masa dimana individu berumur 20 tahunan yang
telah mandiri secara finansial dan secara fisik telah meninggalkan keluarganya
namun belum berkeluarga.
Tugas perkembangan. Tugas perkembangan di tahap ini bersifat individual,
bukan berorientasi pada keluarga, yaitu:
1.
Pembedaan diri dalam hubungannya dengan
keluarga asalnya.
2.
Menjalin hubungan yang akrab dengan
teman sebaya.
3.
Pembentukan diri yang berhubungan dengan
kemandirian pekerjaan dan finansial.
4.
Tahap II: Keluarga pemula.Tahap ini
merupakan tahap pertama dari siklus keluarga inti dengan orangtua. Adapun
tugas-tugas perkembangan yang terdapat pada tahap ini adalah:
1.
Menciptakan sebuah perkawinan yang
saling memuaskan.
2.
Menghubungkan jaringan persaudaraan
secara harmonis
3.
Keluarga berencana (keputusan tentang
kedudukan sebagai orangtua)
5.
Tahap III: Keluarga yang sedang mengasuh
anak.Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama hingga bayi berusia 30
bulan. Masalah dalam masa transisi menjadi orangtua yang sering terjadi adalah:
Suami merasa diabaikan,Terdapat peningkatan perselisihan dan argument antara
suami-istri,Interupsi dalam jadwal yang kontinyu,Kehidupan seksual dan sosial
terganggu dan menurun.Tugas perkembangan.
1.
Membentuk keluarga muda sebagai sebuah
unit yang mantap.
2.
Rekonsiliasi tugas perkembangan yang
bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga.
3.
Mempertahankan hubungan perkawinan yang
memuaskan.
4.
Memperluas persahabatan dengan keluarga
besar.
1.
Tahap IV: Keluarga dengan anak usia pra
sekolah.Anak-anak usia pra sekolah akan banyak belajar pada tahap ini, khhususnya
dalam hal kemandirian.Tugas perkembangan.
1.
Memenuhi kebutuhan anggota keluarga
2.
Mensosialisasikan anak.
3.
Mengintegrasikan anak yang baru,
sementara tetap memenuhi kebutuhan anakanak yang lain
4.
Mempertahankan hubungan yang sehat dalam
keluarga.
1.
Tahap V: Keluarga dengan anak usia
sekolah.Dalam tahap ini orangtua mempunyai tuntutan ganda yaitu berupaya
mencari kepuasaan dalam mengasuh generasi berikutnya (tugas perkembangan
generativitas) dan memperhatikan perkembangan mereka sendiri, sementara anak usia
sekolah bekerja untuk mengembangkan sense of industry –kapasitas untuk
menikmati pekerjaan- dan mencoba mengurangi atau menangkis perasaan rendah
diri.Tugas perkembangan.
1. Mensosialisasikan anak-anak.
2.Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
3. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.
6. Tahap V: Keluarga dengan anak remaja.Hal utama yang perlu diperhatikan
saat memberikan asuhan keperawatan pada keluarga dengan anak remaja adalah
perubahan dalam batasan perubahan kognitif, pembentukan identitas, pertumbuhan
biologis, dan konflik-konflik serta krisis yang berdasarkan perkembangan. Tiga
aspek proses perkembangan remaja yang menyita banyak perhatian adalah
emansipasi, budaya remaja, kesenjangan antar generasi (perbedaan nilai-nilai dan
norma-norma antara orangtua dan remaja).Tugas perkembangan.
1. Menyeimbangkan kebebasan dan tanggungjawab ketika remaja menjadi dewasa
dan semakin mandiri.
2. Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.
3.Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak.
7. Tahap VII: Keluarga yang melepaskan anak usia dewasa muda. Fase ini
ditandai dengan tahun-tahun puncak persiapan diri dan oleh anak-anak untuk
kehidupan dewasa yang mandiri.Tugas perkembangan.
1. Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang
didapatkan melalui perkawinan anak-anak.
2. Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali hubungan
perkawinan.
3.Membantu orangtua lanjut usia dari pihak suami maupun istri.
8. Tahap VIII: Orangtua usia pertengahan.Pasangan postparental (pasangan
yang anak-anaknya telah meninggalkan rumah) tidak terisolasi lagi saat ini.
Bagi sejumlah pasangan, masa-masa ini merupakan masa-masa yang sulit karena
masalah-masalah penuaan, hilangnya anak, dan adanya suatu perasaan dalam diri
mereka bahwa mereka gagal membesarkan anak.Tahap perkembangan.
1. Menyediakan lingkungan untuk meningkatkan kesehatan.
2. Mempertahankan hubungan memuaskan dan penuh arti dengan para orangtua
lansia dan anak-anak.
3. Memperkokoh hubungan perkawinan.
9. Tahap IX: Keluarga dalam masa pensiun dan lansia. Ada berbagai macam
stressor atau kehilangan-kehilangan saat seseorang mengalami Proses menua dan
masa pensiun, meliputi masalah ekonomi, perumahan, sosiologis, pekerjaan, dan
kesehatan. Tugas perkembangan.
1. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan.
2. Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun.
3. Mempertahankan hubungan perkawinan.
4. Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan.
5. Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi.
6. Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan dan integrasi
hidup).
BAB III
PENUTUP
1.
A. Kesimpulan
Keluarga adalah sistem sosial yang unik. Cara masuk ke dalam sistem ini
adalah melalui kelahiran, pengadopsian, pengangkatan, pernikahan. Memutuskan
seluruh koneksi kekeluargaan adalah hal yang mustahil. Anggota keluarga juga
biasanya memiliki peran tertentu. Hubungan antar anggota keluarga merupakan hal
yang paling penting dan tidak tergantikan. Saat ini pendefinisian keluarga
secara tradisional mendapat tantangan. Maraknya orang tua tunggal, perceraian,
perpisahan dan pernikahan kembali membuat struktur tradisional mengalami
perkembangan.
1.
B. Saran
Gunakanlah maklah ini dengan sebaik-baiknya dan jadikanlah makalah ini
sebagai bahan referensi untuk makalah yang sejenis.
DAFTAR PUSTAKA
Alimuddin Mahmud & Kustiah Sunarty.2006.Dasar-dasar Bimbingan &
Konseling Keluarga.Makassar:Samudra Alif-MIM
Friedman M. Marilyn, 1998, Keperawatan keluarga-teori dan praktik,
edisi 3, EGC, Jakarta.
Wright, L.M., & Leahey, M., 2000, Nurses and Families: a guide to
family assessment and intervention, 3rd ed, F.A. Davis Company, Philadelphia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar