BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Peka
itu sensitive terhadap lingkungan di sekitarnya,sensitive disini bukan berarti
“sensian atau suka marah ”namun lebih
berkaitan dengan hubungan dengan manusia,peka terhadap saudara kita,peka terhadap budaya orang lain,Peka
mengetahui segala masalah-masalahnya,peka terhadap kesulitan dan keluh kesah orang lain,peka terhadap apa yang
sedang orang lain rasa,dll. Lalu Kenapa kita harus peka dengan orang lain ? karena dengan kepekaan, kita mampu untuk merasakan dan mengamati reaksi-reaksi
atau perubahan orang lain yang ditunjukkannya baik secara verbal maupun
nonverbal. Seseorang yang memiliki kepekaan
sosial yang tinggi akan mudah memahami dan menyadari adanya reaksi-reaksi
tertentu dari orang lain, entah reaksi tersebut positif ataupun negatif. Adanya
kepekaan akan membuat seseorang dapat bersikap dan bertindak yang tepat
terhadap orang lain yang ada di sekitarnya.Kepekaan
itu modal bagi seseorang bisa merasa perduli, karena orang tidak peka mustahil
untuk bisa peduli terhadap sekitarnya
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa pengertian Sensitivity atau kepekaan ?
2. Bagaimana kajian budaya
dari sensitivity ?
3. Digunakan untuk apa dan bagaimana implementasi
sensitivity dalam
pelaksanaan Konseling ?
C.
TUJUAN
Tujuan yang hendak
dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Memahami definisi Sensitivity (peka)
2.
Mengetahui kajian budaya dari Sensitivity
3.
Dapat
mengimplementasikan bagaimana seharusnya penggunaan kepekaan itu dalam
pelaksanaan konseling
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN SENSITIVITY
(PEKA)
Dalam kamus besar bahasa indonesia pe·ka /péka/ a 1 mudah merasa; 2 mudah menerima
Menurut Maria Montessori penulis buku renungan kaum muda tentang penerimaan
diri,kepekaan adalah“kemampuan untuk merasakan dan
mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukkannya baik
secara verbal maupun nonverbal. “
Dalam answers.ask.com science psychogy“Sensitivity is how responsive someone or
something is to external stimulation or pain. High sensitivity means that a
subject reacts easily.” Yang
artinya
“Sensitivitas adalah bagaimana seseorang atau sesuatu responsif terhadap rangsangan eksternal yang
mendalam. Sensitivitas
tinggi berarti bahwa subjek
bereaksi dengan mudah.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan,Sensitivity atau kepekaan adalah
kemampuan dan respons untuk merasakan reaksi-reaksi dari subjek baik positif
maupun negatif.
B.KAJIAN BUDAYA
UNTUK SENSITIVITY (PEKA)
Dalam ( American
phsycology division 17) “Cultural sensitivity means
that you are aware of cultures different than yours. You don't speak in a way
that could offend. For instance you would not poke fun of a hispanics food
preferences. The key to this is to be sensitive even when no one is listening.
It's a great character trait and makes you an all around better person.” Yang berarti Sensitivitas
di pandang dari budaya berarti bahwa
Anda menyadari budaya yang berbeda
dari Anda. Anda tidak
berbicara dengan cara yang bisa
menyinggung perasaan. Misalnya Anda
tidak akan mengolok-olok .
Inilah kunci untuk peka bahkan ketika tidak ada yang mendengarkan.
Ini adalah sifat karakter yang besar dan membuat Anda menjadi seseorang yang lebih
baik secara menyeluruh.
C.PENGGUNAAN RASA
PEKA DAN IMPLEMENTASI DALAM PELAKSANAAN LAYANAN KONSELING
Dalam konseling, alat utama
yang digunakan adalah bahasa. Konselor perlu peka terhadap bahasa atau ucapan-ucapan klien baik
yang verbal maupun non verbal.
Implementasinya dalam layanan Konseling meliputi aspek :
1. Dalam layanan konseling Kata-kata
yang diucapkan klien mengungkapkan
kekhawatiran, ketakutan, konflik batin, kegelisahan, kebingungan, kesedihan,
ketakutan dan muatan-muatan psikologis lainnya. Namun, bahasa verbal kadang
bertentangan dengan bahasa non verbal, misalnya klien sama sekali tidak
mengatakan bahwa dia takut tetapi ia tampak gemetar, pucat dan seringkali
menengok ke jendela. Konselor yang peka terhadap klien akan menangkap bahasa non verbal
tersebut sebagai pertanda ketakutan.
2. Keterlibatan kita dalam personil
BK akan mengasah kita untuk memiliki kepekaan dalam
mengutarakan ide dan pendapat sehingga tidak melukai orang lain. Keterlibatan
ini juga akan membuat kita mampu mengenali cara berpikir dan cara bicara orang
lain sehingga sedikit banyak kemampuan kita untuk mengenal orang lain akan
terasah.
3. Orang yang memiliki kepekaan
adalah orang yang pada saat melihat orang lain yang ada dalam kondisi
yang susah tidak akan hanya berhenti pada memandang orang itu, melainkan
melakukan sesuatu untuk orang yang dilihatnya itu. “Sesuatu” di sini tidak
harus dengan uang atau barang, melainkan
juga dalam bentuk perbuatan lain,
misalnya berdoa untuk orang itu.begitu
juga guru Bk memberikan bantuan kepada
permasalahan kliennya.
BAB III
PENUTUP
A.
Sumber Kajian
Montessori maria,penerimaan diri,
mengapa saya ?, Yayasan Komunikasi Bersama, Jakarta Kepa Duri,2007.
kamus bahasa indonesia online Universitas Indonesia : http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=peka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar