Selasa, 13 Oktober 2015

CONTOH MAKALAH KONSELING LINTAS BUDAYA TENTANG SENSITIVITY (PEKA)


BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
                        Peka itu sensitive terhadap lingkungan di sekitarnya,sensitive disini bukan berarti “sensian atau suka marah ”namun lebih berkaitan dengan hubungan dengan manusia,peka terhadap saudara kita,peka terhadap budaya orang lain,Peka mengetahui segala masalah-masalahnya,peka terhadap kesulitan dan keluh kesah orang lain,peka terhadap apa yang sedang orang lain rasa,dll. Lalu Kenapa kita harus peka dengan  orang lain ? karena dengan kepekaan, kita mampu  untuk merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukkannya baik secara verbal maupun nonverbal. Seseorang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi akan mudah memahami dan menyadari adanya reaksi-reaksi tertentu dari orang lain, entah reaksi tersebut positif ataupun negatif. Adanya kepekaan akan membuat seseorang dapat bersikap dan bertindak yang tepat terhadap orang lain yang ada di sekitarnya.Kepekaan itu modal bagi seseorang bisa merasa perduli, karena orang tidak peka mustahil untuk bisa peduli terhadap sekitarnya

B.     RUMUSAN MASALAH
1.    Apa  pengertian Sensitivity atau kepekaan ?
2.    Bagaimana kajian budaya dari sensitivity ?
3.    Digunakan untuk apa dan bagaimana implementasi
sensitivity dalam pelaksanaan Konseling ?

C.    TUJUAN
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Memahami definisi Sensitivity (peka)
2.    Mengetahui kajian budaya dari Sensitivity
3.    Dapat mengimplementasikan bagaimana seharusnya penggunaan kepekaan itu dalam pelaksanaan konseling




BAB II
PEMBAHASAN
A.  PENGERTIAN SENSITIVITY (PEKA)
Dalam kamus besar bahasa indonesia  pe·ka /péka/ a 1 mudah merasa; 2 mudah menerima
kepekaan :: ke.pe.ka.an adalah kesanggupan bereaksi terhadap suatu keadaan.
Menurut Maria Montessori penulis buku renungan kaum muda tentang penerimaan diri,kepekaan adalah“kemampuan untuk merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukkannya baik secara verbal maupun nonverbal.
Dalam answers.ask.com science psychogySensitivity is how responsive someone or something is to external stimulation or pain. High sensitivity means that a subject reacts easily.” Yang artinya
“Sensitivitas adalah bagaimana seseorang atau sesuatu  responsif terhadap rangsangan eksternal yang mendalam. Sensitivitas tinggi berarti bahwa subjek bereaksi dengan mudah.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan,Sensitivity atau kepekaan adalah kemampuan dan respons untuk merasakan reaksi-reaksi dari subjek baik positif maupun negatif.
B.KAJIAN BUDAYA UNTUK SENSITIVITY (PEKA)
Dalam ( American phsycology division 17)Cultural sensitivity means that you are aware of cultures different than yours. You don't speak in a way that could offend. For instance you would not poke fun of a hispanics food preferences. The key to this is to be sensitive even when no one is listening. It's a great character trait and makes you an all around better person. Yang berarti Sensitivitas di pandang dari budaya berarti bahwa Anda menyadari budaya yang berbeda dari Anda. Anda tidak berbicara dengan cara yang bisa menyinggung perasaan. Misalnya Anda tidak akan mengolok-olok . Inilah kunci untuk peka bahkan ketika tidak ada yang mendengarkan. Ini adalah sifat karakter yang besar dan membuat Anda menjadi  seseorang yang lebih baik secara menyeluruh.



C.PENGGUNAAN RASA PEKA DAN IMPLEMENTASI DALAM PELAKSANAAN LAYANAN KONSELING

Dalam konseling, alat utama yang digunakan adalah bahasa. Konselor perlu peka terhadap bahasa atau ucapan-ucapan klien baik yang verbal maupun non verbal. Implementasinya dalam layanan Konseling meliputi aspek :
1.      Dalam layanan konseling Kata-kata yang diucapkan klien  mengungkapkan kekhawatiran, ketakutan, konflik batin, kegelisahan, kebingungan, kesedihan, ketakutan dan muatan-muatan psikologis lainnya. Namun, bahasa verbal kadang bertentangan dengan bahasa non verbal, misalnya klien sama sekali tidak mengatakan bahwa dia takut tetapi ia tampak gemetar, pucat dan seringkali menengok ke jendela. Konselor yang peka terhadap  klien akan menangkap bahasa non verbal tersebut sebagai pertanda ketakutan.
2.      Keterlibatan kita dalam personil BK akan mengasah kita untuk memiliki kepekaan dalam mengutarakan ide dan pendapat sehingga tidak melukai orang lain. Keterlibatan ini juga akan membuat kita mampu mengenali cara berpikir dan cara bicara orang lain sehingga sedikit banyak kemampuan kita untuk mengenal orang lain akan terasah.
3.      Orang yang memiliki kepekaan  adalah orang yang pada saat melihat orang lain yang ada dalam kondisi yang susah tidak akan hanya berhenti pada memandang orang itu, melainkan melakukan sesuatu untuk orang yang dilihatnya itu. “Sesuatu” di sini tidak harus dengan  uang atau barang, melainkan juga  dalam bentuk perbuatan lain, misalnya berdoa untuk orang itu.begitu juga guru Bk memberikan bantuan  kepada permasalahan kliennya.
BAB III
PENUTUP
A.      Sumber Kajian
Montessori maria,penerimaan diri, mengapa saya ?, Yayasan Komunikasi Bersama, Jakarta Kepa Duri,2007.
kamus bahasa indonesia online Universitas Indonesia : http://bahasa.cs.ui.ac.id/kbbi/kbbi.php?keyword=peka.
                                











Tidak ada komentar:

Posting Komentar