Selasa, 13 Oktober 2015

Kesehatan Mental : Kepribadian Sehat

BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
     Kepribadian adalah kata yang begitu umum dipakai di dunia Psikologi, kepribadian seseorang bisa dinilai dari kemampuannya memperoleh reaksi-reaksi dari berbagai orang dalam berbagai keadaan. Untuk definisi kepribadian hampir bisa dikatakan tidak ada suatu kesepakatan definisi dari keseluruhan pandangan yang pernah dilontarkan. Menurut allport (1937) ia menemukan bahwa ada hampir 50 definisi berbeda yang digolongkannya kedalam sejumlah kategori. Allport sendiri memandang “kepribadian merupakan apa orang itu sesungguhnya”. Sehat merupakan bagian dari harta manusia yang tak ternilai harganya. Sehat merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta untuk makhluk hidup melakukan perbuatan mulia sehingga sehat dapat di pandang indah untuk selalu disandang oleh individu yang sadar akan hal tersebut.
Latar Belakang Masalah Setiap manusia di dunia ini pasti memerlukan orang lain, oleh karena itu terjadi sosialisasi antar sesama manusia tersebut, yang mana berfungsi sebagai sarana kedekatan antar sesamanya. Beberbicara masalah keperibadian, merupakan suatu cermin dan gambaran bagi setiap manusia. Jika keperibadiannya bagus, maka akan bagus pula tingkah laku yang dimiliki oleh orang tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika keperibadian orang tesebut buruk maka otomatis akan di ikuti oleh perilakunya yang buruk tersebut.  Kami harap makalah ini bisa memberikan pengetahuan tentang Kepribadian sehat  dan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
B.     RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, Rumusan masalah yang dapat diambil ialah:
1.        Apakah definisi Kepribadian dan Kepribadian Sehat ?
2.        Bagaimana karakteristik dan ciri-ciri kepribadian sehat?
3.        Bagaimana Konsep kepribadian sehat ?

C.    TUJUAN
1.        Untuk mengetahui definisi kepribadian dan kepribadian sehat
2.        Untuk mengetahui karakteristik, ciri-ciri, konsep kepribadian sehat

4
BAB II
PEMBAHASAN

A.      DEFINISI KEPRIBADIAN SEHAT.
Secara umum, kepribadian dipahami sebagai pola-pola yang jelas dari perilaku, pikiran, dan perasaan yang menjadi karakteristik individu dalam penyesuaiannya untuk memenuhi tuntutan kehidupan (Rathus dan Nevid, 2002). Sedangkan menurut Hahn dan Payne (2003), Kepribadian Sehat (psychological wellness) merupakan keadaan individu yang mengarah pada perkembangan yang adekuat dan kemampuan mental yang memiliki kesesuaian fungsi, sehingga individu mampu mengembangkan kemampuan-kemampuan mentalnya secara lebih baik.
KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN SEHAT.
Individu yang memiliki kepribadian sehat seringkali dikenali sebagai mereka yang:
a. Dapat terbebas dari gangguan psikologis dan gangguan mental berat.
b. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa kehilangan identitas
c. Mampu mengembangkan potensi dan bakat
d. Memiliki keimanan pada Tuhan dan berupaya untuk hidup sesuai ajaran-ajaran agama yang dianutnya.
Erich Fromm menjelaskan bahwa manusia yang berkepribadian sehat adalah manusia yang produktif (berkarakter produktif), yaitu mereka yang mampu mengembangkan potensi, memiliki cinta kasih, imaginasi, serta kesadaran diri yang baik. Sedangkan menurut Allport, individu berkepribadian sehat diistilahkan dengan mature personality, yang memiliki kemampuan mengembangkan dirinya, memiliki hubungan interpersonal yang baik, realistis, memiliki filosofi hidup, serta bersikap berani dan objektif terhadap diri sendiri. Istilah lain dari kepribadian sehat adalah self-actualize person (Maslow), serta oleh Victor Frankl disebut sebagai The meaning of people.
Ciri-Ciri Kepribadian Sehat
·  Mampu menilai diri sendiri secara realisitik; mampu menilai diri apa adanya tentang kelebihan dan kekurangannya, secara fisik, pengetahuan, keterampilan dan sebagainya.
·  Mampu menilai situasi secara realistik; dapat menghadapi situasi atau kondisi kehidupan yang dialaminya secara realistik dan mau menerima secara wajar, tidak mengharapkan kondisi kehidupan itu sebagai sesuatu yang sempurna.

5
·  Mampu menilai prestasi yang diperoleh secara realistik; dapat menilai keberhasilan yang diperolehnya dan meraksinya secara rasional, tidak menjadi sombong, angkuh atau mengalami superiority complex, apabila memperoleh prestasi yang tinggi atau kesuksesan hidup. Jika mengalami kegagalan, dia tidak mereaksinya dengan frustrasi, tetapi dengan sikap optimistik.
·  Menerima tanggung jawab; dia mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapinya.
·  Kemandirian; memiliki sifat mandiri dalam cara berfikir, dan bertindak, mampu mengambil keputusan, mengarahkan dan mengembangkan diri serta menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
·  Dapat mengontrol emosi; merasa nyaman dengan emosinya, dapat menghadapi situasi frustrasi, depresi, atau stress secara positif atau konstruktif , tidak destruktif (merusak)
·  Berorientasi tujuan; dapat merumuskan tujuan-tujuan dalam setiap aktivitas dan kehidupannya berdasarkan pertimbangan secara matang (rasional), tidak atas dasar paksaan dari luar, dan berupaya mencapai tujuan dengan cara mengembangkan kepribadian (wawasan), pengetahuan dan keterampilan.
·  Berorientasi keluar (ekstrovert); bersifat respek, empati terhadap orang lain, memiliki kepedulian terhadap situasi atau masalah-masalah lingkungannya dan bersifat fleksibel dalam berfikir, menghargai dan menilai orang lain seperti dirinya, merasa nyaman dan terbuka terhadap orang lain, tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan untuk menjadi korban orang lain dan mengorbankan orang lain, karena kekecewaan dirinya.
·  Penerimaan sosial; mau berpartsipasi aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki sikap bersahabat dalam berhubungan dengan orang lain.
·  Memiliki filsafat hidup; mengarahkan hidupnya berdasarkan filsafat hidup yang berakar dari keyakinan agama yang dianutnya.
·  Berbahagia; situasi kehidupannya diwarnai kebahagiaan, yang didukung oleh faktor-faktor achievement (prestasi) acceptance (penerimaan), dan affection (kasih sayang).

Ciri-Ciri Kepribadian Tidak Sehat
·       Mudah marah (tersinggung)
·       Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan
·       Sering merasa tertekan (stress atau depresi)
·       Bersikap kejam atau senang mengganggu orang lain yang usianya lebih muda atau terhadap binatang
·       Ketidakmampuan untuk menghindar dari perilaku menyimpang meskipun sudah diperingati atau dihukum
·       Kebiasaan berbohong
·       Hiperaktif
·       Bersikap memusuhi semua bentuk otoritas
·       Senang mengkritik/ mencemooh orang lain
·       Sulit tidur

6

·       Kurang memiliki rasa tanggung jawab
·       Sering mengalami pusing kepala (meskipun penyebabnya bukan faktor yang bersifat organis)
·       Kurang memiliki kesadaran untuk mentaati ajaran agama
·       Pesimis dalam menghadapi kehidupan
·       Kurang bergairah (bermuram durja) dalam menjalani kehidupan

B. Konsep-konsep dalam Kepribadian Sehat
Kepribadian sehat merupakan proses yang berlangsung terus-menerus dalam kehidupan manusia, sehingga kualitasnya dapat menurun atau naik. Hal inilah yang akan mempengaruhi kondisi kesehatan mental individu tersebut. Berbagai pendekatan dalam Psikologi juga membahas konsep-konsep kepribadian sehat, antara lain:

TEORI PSIKODINAMIK.
Teori Psikodinamik mejelaskan individu yang memiliki kepribadian sehat sebagai individu yang:
a)      Mampu untuk mencintai & bekerja (lieben und arbeiten) (Freud): individu mampu peduli pada orang lain secara mendalam, terikat dalam suatu hubungan yang intim dan mengarahkannya dalam kehidupan kerja yang produktif. Selain itu, impuls seksual dapat diekspresikan dalam relasi dengan orang dewasa yang berlainan gender, sedangkan impuls yang lain tersalurkan dalam kegiatan sosial produktif.
b)      Memiliki ego strength
ego dari individu yang berkepribadian sehat memiliki kekuatan mengendalikan dan mengatur id dan superego-nya, sehingga ekspresi primitif id berkurang dan ekspresi yang sesuai dengan situasi yang muncul tanpa adanya represi dari ego secara berlebihan.
c)      Merupakan creative self
(Jung & Adler): mengungkapkan bahwa individu yang berkepribadian sehat merupakan self yang memiliki kekuatan untuk mengarahkan perilaku mengembangkan potensi yang dimilikinya.


7



d)     Mampu melakukan kompensasi bagi perasaan inferiornya (Adler): juga menambahkan bahwa individu haruslah menyadari ketidaksempurnaan dirinya dan mampu mengembangkan potensi yang ada untuk mengimbangi kekurangannya tersebut.

e)      Memiliki hasil yang positif dalam setiap tahap interaksinya dengan lingkungan sosial (Erikson): Setiap keberhasilan dalam tiap tahap psikososial yang diungkap Erikson memberikan kontribusi pada individu yang sehat kepribadiannya. Misal: bayi akan sangat baik apabila memiliki kepercayaan dasar, sehingga akan dapat berkegiatan aktif ketika masa sekolah, dan mampu memahami dirinya ketika remaja, yang akan membantu mereka menjalin relasi yang intim dengan pasangan setelah dewasa.


TEORI PENSIFATAN (TRAIT).
Teori Pensifatan memiliki asumsi bahwa faktor herediter mempengaruhi kepribadian seseorang. Hal tersebut membuat teori trait menjelaskan kepribadian sehat sebagai bentuk
kompilasi antara sifat-sifat yang diturunkan ke individu dengan kemampuan individu menyesuaikan diri dengan sifat tersebut dan lingkungannya. Pribadi yang sehat adalah individu yang mampu menemukan potensi positif dalam sifat-sifat yang dimilikinya serta
mengarahkan sifat-sifat yang ada untuk menjadi apa yang diinginkannya. Adapun bentuk-bentuk penyesuaian dalam perspektif teori trait, dicontohkan sebagai mereka yang mampu mencari jenis pekerjaan dan aktivitas sosial yang sesuai dengan sifat-sifat yang dimilikinya.












8
BAB III
PENUTUP

1.        KESIMPULAN
           Individu berkepribadian sehat diistilahkan dengan mature personality, yang memiliki kemampuan mengembangkan dirinya, memiliki hubungan interpersonal yang baik, realistis, memiliki filosofi hidup, bersikap berani dan objektif terhadap diri sendiri serta kesadaran diri yang baik. Jika keperibadiannya bagus, maka akan bagus pula tingkah laku yang dimiliki oleh orang tersebut. Begitu pula sebaliknya, jika keperibadian orang tesebut buruk maka otomatis akan di ikuti oleh perilakunya yang buruk tersebut

2.        SARAN
Sebagai Konselor kita seharusnya memiliki kepribadian yang sehat agar dapat menjadi konselor yang profesional.


Psikologi Perkembangan Keluarga

BAB I
PENDAHULUAN

1.      A.    Latar Belakang
Keluarga adalah sistem sosial yang unik. Cara masuk ke dalam sistem ini adalah melalui kelahiran, pengadopsian, pengangkatan, pernikahan. Memutuskan seluruh koneksi kekeluargaan adalah hal yang mustahil. Anggota keluarga juga biasanya memiliki peran tertentu. Hubungan antar anggota keluarga merupakan hal yang paling penting dan tidak tergantikan. Saat ini pendefinisian keluarga secara tradisional mendapat tantangan. Maraknya orang tua tunggal, perceraian, perpisahan dan pernikahan kembali membuat struktur tradisional mengalami perkembangan.
Namun penelitian memperlihatkan bahwa siklus hidup sebuah keluarga yang paling menguntungkan adalah model keluarga tradisional, dan model yang lain dianggap sebagai deviasi dari norma ini (Carter & McGoldrick, 1999..Melihat dari pembahasan diatas penulis ingin mengkaji lebih lagi mengenai Psikologi perkembangan keluarga.

B.     Tujuan Penulisan
Selain sebagai tugas kelompok mata kuliah bimbingan dan konseling keluarga hal ini juga dibuat untuk mengetahui:
1.      Perubahan Interaksi keluarga
2.      Siklus Keluarga
3.      Tugas-tugas Perkembangan




BAB II
PEMBAHASAN
1.      A.    Perubahan Interaksi Keluarga
Seperti yang dikemukakan pada bagian orientasi, makna sebuah keluarga tidak hanya terbatas pada sekumpulan individu yang tinggal bersama dalam suatu tempat tertentu, melainkan lebih luas daripada itu, yaitu sistem sosial. Keluarga disebut sebagai suatu sistem sosial karena ia terdiri dari sejumlah unit (orangtua, dewasa, dan anak-anak) yang saling berinteraksi dan saling berinterdenpensi antara satu dengan yang lainnya dalam mencapai tujuan-tujuan bersama. Interaksi dan interdenpensi diantara unit-unit itu berlangsung sesuai dengan aturan, peran, struktur kekuasaan, bentuk-bentuk komunikasi, cara bernegosiasi, dan cara memecahkan masalah yang berlaku di dalam keluarga itu. Semakin lancar dan harmonis interaksi dan interpendensi yang berlaku dalam suatu keluarga semakin baik pula kehidupan keluarga itu.
Sebagai suatu sistem sosial, keluarga merupakan subsistem dari sistem-sistem yang lebih luas, yakni lingkungan tetangga, komunitas, dan masyarakat yang lebih besar (Bronferenbrenner,1979). keluarga merupakan suatu sistem sosial yang terbuka, karena itu sistem-sistem sosial yang ada diluar keluarga sangat berpengaruh terhadap kehidupan keluarga, baik pengaruh terhadap struktur keluarga maupun pola interaksi yang berlangsung di dalamnya. Bagaimana bentuk struktur keluarga, apakah ia tradisional atau inovatif, adaptif atau maladaptif, efisien atau mengalami konflik, sangat bergantung pada bagaimana tingkat adaptabilitas keluarga. Oleh karena itu, semua anggota keluarga harus berupaya untuk menyesuaikan diri dan menata dirinya sendiri agar keluarga bisa berfungsi sebagai suatu kelompok yang stabil dan fungsional.
Perubahan yang terjadi di dalam pola interaksi keluarga yang paling berpengaruh terhadap anak dan perkembangannya (Hurlock,1989;Ollenburger,1996;Sanderson,2000) adalah :
1.      Ikatan dengan anggota keluarga yang lebih longgar dan kontak antara anggota keluarga semakin berkurang.
2.      Berkurangnya pekerjaan yang dilakukan di rumah, terutama dilakukannya pekerjaan dengan bantuan alat-alat yang menghemat tenaga, dan makanan yang sudah siap santap.
3.      Anak lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah daripada di dalam rumah.
4.      Rekreasi keluarga telah bergeser ke luar rumah.
5.      Rekreasi utama keluarga adalah menonton TV.
6.      Banyaknya ibu yang bekerja di luar rumah (berkarier).
7.      Perceraian, perpisahan, dan pernikahan kedua atau ketiga meningkat.
8.      Metode pendidikan anak lebih demokratis.
9.      Ayah lebih memegang peranan penting dalam metode pengasuhan anak.
10.  Meningkatnya penggunaan pembantu (baby sitter) dalam pengasuhan anak.
11.  Mobilitasi sosial dan pekerjaan meningkat.
12.  Lambang status semakin penting.
13.  Orang tua mempunyai ambisi lebih besar untuk anak dan bersedia mengorbankan kepentingan pribadi mereka demi untuk pendidikan anak.
Perubahan yang terjadi pada pola dan interaksi keluarga kontemporer dilatar belakangi oleh sejumlah penyebab. Menurut Hareven (1982) perubahan yang terjadi di dalam keluarga disebabkan oleh masyarakat yang terlalu toleran terhadap perubahan sosial, pereferensi-pereferensi dan prioritas pribadi, dan alternatif-alternatif pilihan pribadi. Sementara itu Goldenberg dan Goldenberg (1985) menyatakan bahwa penyebab terjadinya perubahan drastis pada pola dan interaksi keluarga adalah sikap terhadap perkawinan dan perceraian yang sudah mulai berubah, bertambah banyaknya pasangan suami isteri yang menyetujui pendapat bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam kegiatan-kegiatan pekerjaan dan pengasuhan anak Hurlock (1989) dengan rinci mengemukakan empat penyebab berubahnya pola kehidupan keluarga, sebagai berikut :
1.      Pergeseran masyarakat dari ekonomi pedesaan yang akrab (gotong royong) ke ekonomi kota yang kurang akrab dan individual
2.      Pergeseran yang cepat dari perusahaan kecil ke perusahaan besar menyebabkan mobilitasi pekerjaan semakin tinggi dan melonggarkan ikatan keluarga.
3.      Terjadi pengaruh silang budaya yang menghasilkan keluarga yang terpusat pada anak, bertolak belakang dengan keluarga generasi lalu yang berpusat pada orangtua.
4.      Perubahan dari pendidikan yang otoriter ke pendidikan yang serba permisif.

1.      B.     Siklus Keluarga
·         Ø Menurut Duval (Niacholas 1984) ada 8 tingkat/siklus perkembangan keluarga
1.      Tahap I, Keluarga pemula (pasangan pada tahap pernikahan)
2.      Tahap II,Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi-30 bln).
3.      Tahap III, Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berusia 2-6 tahun).
4.      Tahap IV, Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur 6-13 tahun)
5.      Tahap V, Keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13-20 tahun).
6.      Tahap VI, Keluarga melepas anak usia dewasa muda (anak yang meninggalkan rumah).
7.      Tahap VII, Orangtua usia pertengahan (pensiunan).
8.      Tahap VIII, Keluarga dalam masa pensiun dan lansia.
·         Ø Menurut Carter & McGoldrik ada 6 tingkat perkembangan keluarga
1. Keluarga antara: dewasa muda, belum menikah.
2. Penyatuan keluarga dengan pernikahan (pasangan baru menikah).
3. Keluarga dengan anak kecil (bayi-usia sekolah).
4. Keluarga dengan anak remaja.
5. Keluarga melepaskan anak dan pindah.
6. Keluarga dalam kehidupan terakhir. Tidak ada tahap yang diidentifikasi.
·         Ø Menurut Carter dan McGoldrik 1985 mengatakan sistem keluarga sekurang-kurangya tiga generasi:
1.      Kakek-nenek
2.      Ayah-ibu
3.      Anak-anak


1.      C.    Tugas-tugas perkembangan Keluarga
Tahap-tahap Siklus Kehidupan Keluarga Inti dengan Dua Orangtua.Tahap ini terdiri dari 9 tahap siklus kehidupan keluarga. “Tahap antara” dari perspektif terapi keluarga ditambahkan pada model siklus kehidupan perspektif sosiologis sehingga dapat diperoleh gambaran yang komprehensif tentang perubahan kehidupan keluarga.
1.      Tahap transisi: keluarga antara, belum menikah.Tahap ini menunjuk ke masa dimana individu berumur 20 tahunan yang telah mandiri secara finansial dan secara fisik telah meninggalkan keluarganya namun belum berkeluarga.
Tugas perkembangan. Tugas perkembangan di tahap ini bersifat individual, bukan berorientasi pada keluarga, yaitu:
1.      Pembedaan diri dalam hubungannya dengan keluarga asalnya.
2.      Menjalin hubungan yang akrab dengan teman sebaya.
3.      Pembentukan diri yang berhubungan dengan kemandirian pekerjaan dan finansial.
4.      Tahap II: Keluarga pemula.Tahap ini merupakan tahap pertama dari siklus keluarga inti dengan orangtua. Adapun tugas-tugas perkembangan yang terdapat pada tahap ini adalah:
1.      Menciptakan sebuah perkawinan yang saling memuaskan.
2.      Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis
3.      Keluarga berencana (keputusan tentang kedudukan sebagai orangtua)
5.      Tahap III: Keluarga yang sedang mengasuh anak.Tahap kedua dimulai dengan kelahiran anak pertama hingga bayi berusia 30 bulan. Masalah dalam masa transisi menjadi orangtua yang sering terjadi adalah: Suami merasa diabaikan,Terdapat peningkatan perselisihan dan argument antara suami-istri,Interupsi dalam jadwal yang kontinyu,Kehidupan seksual dan sosial terganggu dan menurun.Tugas perkembangan.
1.      Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap.
2.      Rekonsiliasi tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga.
3.      Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
4.      Memperluas persahabatan dengan keluarga besar.

1.      Tahap IV: Keluarga dengan anak usia pra sekolah.Anak-anak usia pra sekolah akan banyak belajar pada tahap ini, khhususnya dalam hal kemandirian.Tugas perkembangan.
1.      Memenuhi kebutuhan anggota keluarga
2.      Mensosialisasikan anak.
3.      Mengintegrasikan anak yang baru, sementara tetap memenuhi kebutuhan anakanak yang lain
4.      Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga.
1.      Tahap V: Keluarga dengan anak usia sekolah.Dalam tahap ini orangtua mempunyai tuntutan ganda yaitu berupaya mencari kepuasaan dalam mengasuh generasi berikutnya (tugas perkembangan generativitas) dan memperhatikan perkembangan mereka sendiri, sementara anak usia sekolah bekerja untuk mengembangkan sense of industry –kapasitas untuk menikmati pekerjaan- dan mencoba mengurangi atau menangkis perasaan rendah diri.Tugas perkembangan.
1. Mensosialisasikan anak-anak.
2.Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
3. Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.
6. Tahap V: Keluarga dengan anak remaja.Hal utama yang perlu diperhatikan saat memberikan asuhan keperawatan pada keluarga dengan anak remaja adalah perubahan dalam batasan perubahan kognitif, pembentukan identitas, pertumbuhan biologis, dan konflik-konflik serta krisis yang berdasarkan perkembangan. Tiga aspek proses perkembangan remaja yang menyita banyak perhatian adalah emansipasi, budaya remaja, kesenjangan antar generasi (perbedaan nilai-nilai dan norma-norma antara orangtua dan remaja).Tugas perkembangan.
1. Menyeimbangkan kebebasan dan tanggungjawab ketika remaja menjadi dewasa dan semakin mandiri.
2. Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.
3.Berkomunikasi secara terbuka antara orangtua dan anak-anak.

7. Tahap VII: Keluarga yang melepaskan anak usia dewasa muda. Fase ini ditandai dengan tahun-tahun puncak persiapan diri dan oleh anak-anak untuk kehidupan dewasa yang mandiri.Tugas perkembangan.
1. Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapatkan melalui perkawinan anak-anak.
2. Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali hubungan perkawinan.
3.Membantu orangtua lanjut usia dari pihak suami maupun istri.
8. Tahap VIII: Orangtua usia pertengahan.Pasangan postparental (pasangan yang anak-anaknya telah meninggalkan rumah) tidak terisolasi lagi saat ini. Bagi sejumlah pasangan, masa-masa ini merupakan masa-masa yang sulit karena masalah-masalah penuaan, hilangnya anak, dan adanya suatu perasaan dalam diri mereka bahwa mereka gagal membesarkan anak.Tahap perkembangan.
1. Menyediakan lingkungan untuk meningkatkan kesehatan.
2. Mempertahankan hubungan memuaskan dan penuh arti dengan para orangtua lansia dan anak-anak.
3. Memperkokoh hubungan perkawinan.
9. Tahap IX: Keluarga dalam masa pensiun dan lansia. Ada berbagai macam stressor atau kehilangan-kehilangan saat seseorang mengalami Proses menua dan masa pensiun, meliputi masalah ekonomi, perumahan, sosiologis, pekerjaan, dan kesehatan. Tugas perkembangan.
1. Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan.
2. Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun.
3. Mempertahankan hubungan perkawinan.
4. Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan.
5. Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi.
6. Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan dan integrasi hidup).

BAB III
PENUTUP


1.      A.    Kesimpulan

Keluarga adalah sistem sosial yang unik. Cara masuk ke dalam sistem ini adalah melalui kelahiran, pengadopsian, pengangkatan, pernikahan. Memutuskan seluruh koneksi kekeluargaan adalah hal yang mustahil. Anggota keluarga juga biasanya memiliki peran tertentu. Hubungan antar anggota keluarga merupakan hal yang paling penting dan tidak tergantikan. Saat ini pendefinisian keluarga secara tradisional mendapat tantangan. Maraknya orang tua tunggal, perceraian, perpisahan dan pernikahan kembali membuat struktur tradisional mengalami perkembangan.


1.      B.     Saran
Gunakanlah maklah ini dengan sebaik-baiknya dan jadikanlah makalah ini sebagai bahan referensi untuk makalah yang sejenis.






DAFTAR PUSTAKA

Alimuddin Mahmud & Kustiah Sunarty.2006.Dasar-dasar Bimbingan & Konseling Keluarga.Makassar:Samudra Alif-MIM
Friedman M. Marilyn, 1998, Keperawatan keluarga-teori dan praktik, edisi 3, EGC, Jakarta.

Wright, L.M., & Leahey, M., 2000, Nurses and Families: a guide to family assessment and intervention, 3rd ed, F.A. Davis Company, Philadelphia.